Rintangan Setelah Kematian


Posted by مكتبة منهج السلف .

Buku: Rintangan Setelah Kematian
Penulis: Zaenal Abdinin Syamsuddin, Lc
Penerbit: Pustaka Imam Abu Hanifah
Halaman: 244 lbr
Ukuran: 13×19 cm
Harga: Rp. 45.000,-
KLIK DISINI UNTUK PEMBELIAN

Deskripsi:Kematian, inilah yang kita selalu lari darinya. Ini juga seringkali kita lupakan, dan hanya orang beriman selalu teringat dengannya. Banyak sekali keutamaan yang bisa dipetik seorang hamba dari mengingat kematian, di antaranya: membersihkan hati yang telah kusut, tumbuhnya kesadaran untuk kembali ke akhirat, menghidupkan rohani yang Mulai berkarat, menggugah semangat ibadah yang sedang melemah, menumbuhkan keimanan dan ketaatan yang telah mengendur, menguatkan tekad dalam bertobat dan membentuk pribadi tangguh dan qana’ah.Sementara orang yang terlena dengan kenikmatan dunia, silau dengan gemerlapnya harta, dan menjadi budak syahwat akan lalai hatinya untuk mengingat kematian. dan  ketika kematian dingatkan maka hatinya sangat Membencinya dan ingin lari darinya, bahkan tidak ingin berpisah dengan dunia dan ingin hidup seribu tahun lagi.Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya,
“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari pada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan,”(QS Al-Baqarah [2]: 96).
Abdullah bin Mutharrif berkata, “Sesungguhnya kematian menjadikan para pecinta nikmat dunia tidak selera lagi untuk menikmati seluruh kenikmatan, maka carilah kenikmatan yang tidak tersentuh kematian.” [Mauidzatul Mukminin, Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, hal. 480]
Dari Abu Hurairah -rodliallohu anhu-  berkata bahwa Rasulullah bersabda:
“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian.”
[Shahih diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (2307), Imam Nasa’i diSunannya 0824), Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, (3358), Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnahnya (1447) dan dishahihkan Syaikh al-Bani dalam Shahihul Jami’ (1210) dan Irwaul Ghalil (682),]
Abu Ali Ad-Daqqaq -rahimahullah-  berkata, “Siapa yang memperbanyak mengingat kematian maka akan mendapatkan tiga kemuliaan: bersegera untuk bertobat, hatinya qana’ah dan semangat dalam beribadah.” [ at Tadzkirah, Imam al-Qurthubi, hal. 15]
Dari Ibnu Umar -rodliallohu anhu-  bahwasannya beliau berkata, “Kami duduk-duduk bersama Rasulullah, datanglah seorang laki-Iaki dari kaum Anshar, lalu mengucapkan salam kepada Nabi kemudian dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, orang mukmin  manakah yang paling utama?’ Beliau bersabda, ‘Mereka yang paling baik akhlaknya” Dia berkata, ‘Orang mukmin  manakah yang paling cerdik?’ Beliau bersabda, ‘Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan orang paling baik persiapannya untuk kehidupan setelahnya, mereka  itulah orang-orang cerdik.” [ hadits hasan, diriwayatkan oleh ibnu majah dalam sunannya no 4259 dan dishahihkan oleh al albani dalam shahihul jami’ 7978]
Sahal bin Abdullah At-Tustari -rahimahullah-  berkata, “Tidak ada orang yang paling nekad mati kecuali tiga orang: orang yang bodoh tentang kehidupan setelah kematian, orang yang ingin melarikan diri dari takdir Allah atas dirinya, dan orang yang rindu ingin bertemu dengan Allah.” [ lihat : At tazkiroh, al qurthubi hal 9, dan Syarhus sudur, as suyuthi hal 16]
Mengingat kematian memiliki keutamaan yang sangat banyak, karena mengingat kematian mengajak seorang hamba terlatih meninggalkan hunian penuh penipuan dan bersiap-siap untuk menuju kampung akhirat. Lalai mengingat kematian membuat manusia terlena dalam kubangan syahwat dunia.
Mengingat kematian memiliki keutamaan yang sangat banyak, karena mengingat kematian mengajak seorang hamba terlatih meninggalkan hunian penuh penipuan dan bersiap-siap untuk menuju kampung akhirat. Lalai mengingat kematian membuat manusia terlena dalam kubangan syahwat dunia.
Semua manusia dan makhluk berjiwa akan mati. Bahkan orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada ( Komunis, Atheis dan semisal-nya), tahu itu. Semua juga tahu, jasad manusia yang sudah  tak bernyawa  akan  dikubur, diawetkan,  atau apa  pun terserah yang mengurus -kalau ada yang mengurus.
Yang banyak orang tak mau tahu adalah bahwa setelah kematian itu akan ada kehidupan baru bagi sang ruh. Lebih banyak yang tak mau tahu lagi, bahwa sang ruh itu akan menderita atau gembira tergantung pada amal mereka sewaktu Allah beri kesempatan untuk hidupdialamdunia.
Bagaimana dahsyatnya rintangan yang harus ruh manusia lintasi setelah masa hidupnya di dunia ini berakhir? Apa yang seorang koruptor alami di alam kubur, alam barzakh, mahsyar, dan seterusnya? Bagaimana pula nasib pelaku suap menyuap, rentenir, pemakan riba, dan para durjana? Lantas apa kabar ruh para syuhada dan hamba-hamba Allah yang mulia?
Apa yang bisa dan harus kita upayakan agar kita selamat dalam meniti karier kehidupan kita setelah napas kita terhenti?
Secara runut buku ini akan menguaknya.


Tinggalkan Testimoni Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s