Adab Terhadap Orang Yang Lebih Alim


adab

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Abdullah Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma.” [HR. Bukhari & Muslim]

***

Di status ini saya tidak bermaksud membahas hadits ini secara menyeluruh, tapi saya hanya ingin memetik faidah dari hadits ini yang berkaitan dengan ADAB terhadap orang ‘Alim atau yang lebih ‘alim darinya.

Perkataan:
Abdullah (bin Umar bin Al-Khaththab) radhiyallahu ‘anhuma Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.”

***

Betapa mulianya adab seorang putra Amirul Mukminin yang sekaligus murid dan shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pada dasarnya sudah mengetahui jawaban atas pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hanya saja dikarenakan di saat itu terdapat sejumlah para shahabat diantaranya ialah ayahnya dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma yang jauh lebih ‘alim daripada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma maka beliau pun bersikap tawadhu’ terhadap orang ‘alim dan tidak show off (pamer ilmu) di hadapan orang yang jauh lebih ‘alim darinya.

Sepatutnya adab beliau ini kita contoh dalam adab-adab keseharian kita ketika bersama orang-orang yang jauh lebih ‘alim dari kita terlebih lagi dalam sebuah forum diskusi yang kita berada di tengah-tengah orang ‘alim tentunya lebih baik banyak mendengarkan daripada bicara tapi pas-pas’an atau terbata-bata karena lemahnya ilmu kita.

Terkadang meskipun orang ‘alim itu tidak tahu atau mungkin dia lupa maka sebaiknya diam hingga ia benar-benar bertanya kepada kita tentang hal yang tidak diketahuinya atau yang dia lupa tentangnya, sebab hal ini menunjukkan penghormatan terhadap orang ‘alim sehingga insya Allah kita pun akan dihargai sebagai manusia yang memiliki adab dan akhlak yang baik. (hal ini berlaku ketika banyak orang). dan kalau pun mau menanggapi pertanyaan orang ‘alim itu mesti dengan jawaban yang pasti (benar-benar hafal dan faham) jangan masih terbata-bata lantas mau menanggapi jawaban, hal ini hanya akan menunjukkan ukuran ilmunya sendiri di hadapan umum.

Tujuan saya membahas hal ini hanyalah untuk saling menasihati tentang adab terhadap seorang ‘alim, sebab sangat disayangkan sekali kalau kita sampai show-off di hadapan mereka sedangkan kita ini siapa? sudah fasihkah bahasa Arabnya? sudah fahamkah Aqidah Tauhid secara tafshil (detail)?. Dengan demikian contohlah adab yang mulia dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.[Status Facebook Maktabah Manhaj Salaf]

Tinggalkan Testimoni Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s