Mengantisipasi Stress


Jika gelas ukuran 200ML diisi air 500ML, maka isi gelas tsb akan kepenuhan sehingga meluap.

Begitu pula kondisi pikiran memiliki kapasitasnya tersendiri, maka jika dipenuhi dengan beragam pikiran yang diluar kapasitasnya bisa mengakibatkan kepenuhan beban (over load) sehingga bisa berbahaya baik bagi tubuh biasanya diketahui sebagai penyakit “stroke” atau semisalnya atau pun bagi jiwanya sehingga ia bisa jadi gila “insane” atau kurang waras karena terlalu memuat beban pikiran yang sudah padat.

Itulah dampak dari “the over load of burdens” sehingga hal yang utama perlu diketahui adalah bukan mengobatinya tapi mengantisipasinya.

Diantara antisipasinya ialah membuang partikel-partikel beban di dalam pikiran tsb dengan berusaha tidak memikirkannya namun hal ini saja tidak efektif karena tidak semua orang mampu membuang pikiran-pikiran tsb, benar maka diperlukan langkah berikutnya ialah membenahi zona hatinya dari kotoran hawa nafsu dan bisikan syaithan (atau biasa dibilang instrospeksi diri & managemen qalbu), sebab hawa nafsu adalah “kehendak jiwa yang cenderung terhadap sesuatu”.

Maka setelah pembenahan hati itu dilakukan langkah berikutnya adalah bertaubat dari seluruh maksiat & dosa dan setelah itu menghariba kepada Rabb agar seluruh bebannya dapat teratasi dengan baik dan diberikan solusi yang baik, lalu setelah itu ia pun senantiasa taqarrub kepada Rabbnya dg melakukan amalan-amalan shalih dan menjauhkan diri dari maksiat.

Ketahuilah, dari tahapan yang telah kami sebutkan sampai upaya pendekatan diri kepada Rabbul ‘alamin hal tsb mampu menentramkan pikiran-pikiran yang membebani kita, sehingga kinerja pikiran pun berkurang dan teralihkan kepada pikiran-pikiran yang menenangkannya insya Allah.

Sebab ketika beban pikiran tidak dialihkan kepada pikiran yang positif (tenang) maka beban itu secara berangsur akan menjadi kurang. Kita memang sulit sekali menghilangkan beban pikiran tapi kita bisa mengalihkannya kepada pikiran yang tenang yaitu hanya dengan inabah (kembali) kepada Allah ta’ala dan bersimpuh menghariba kepada-Nya sebab Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

***

Obat kimiawi hanya mampu mengobati tubuh dan tak mampu menyentuh jiwanya yang tandus dan kekeringan. Jadi obat ruhani itu insya Allah akan lebih efektif daripada obat kimiawi tsb.

Sebab tak ayal kadang dokter suka bilang kepada penunggu pasiennya: ± “jangan ditambah beban pikirannya supaya ia lekas sembuh”

***

Wallahu a’lam bish-shawwab wa nas-alullaaha salamah wal afiyah. [This is my own way, u may trust it or not it’s as u wish coz I needn’t insist my own way to others.][Status Facebook Abu Hamzah Yudha Abdul Ghani]

Tinggalkan Testimoni Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s