Perbedaan Orang Kafir Dan Muslim


surga neraka» Orang kafir makan-minum tanpa bismillaah umumnya dengan tangan kiri, terkadang sambil berdiri, kaum muslimin makan membaca bismillaah dengan tangan kanan dan senantiasa sembari duduk.

» Kaum muslimin menikah bahkan ta’addud lalu mendoakan atas istrinya kemudian berjima’ seraya membaca doa sebelum jima’ adapun orang kafir menikah (yang hakikatnya kawin) dan kondisi terkini mereka anti-ta’addud lalu bersetubuh dan selesai mandi biasa, adapun muslim mandi junub yang bernilai ibadah dan berpahala.

» Orang kafir puasa untuk diet atau semisalnya, adapun kaum muslimin puasa (baik wajib atau sunnah) karena Allah ta’ala.

» Kaum muslimin menyibukan diri dengan sholat fardhu 5 waktu setiap harinya disela-sela kesibukan dunianya dan disunahkan sholat nawafil (sholat sunnah) adapun orang kafir hanya menyibukkan diri dengan dunia belaka.

» Kaum muslimin shodaqoh atau infaq karena mengikuti sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mencari ridho Allah ta’ala adapun orang kafir shodaqoh karena bakti sosial belaka, bahkan tak ayal untuk pemikat perhatian manusia.

» Orang kafir bangun tidur, mencari makan dan minum (penghasilan) lalu pulang dan kembali ke rumahnya maka perilaku mereka seperti hewan yang zahirnya kita lihat serupa dengan manusia-manusia kafir tsb. Adapun kaum muslimin bangun tidur baca doa, sebelum berangkat mencari nafkah baca doa, kembali kerumah baca doa, bahkan dianjurkan berdzikir setiap saat dalam rangka mengharap pahala dari Allah ta’ala maka perbedaan ini tampak jelas sekali.

» Kalau seorang berstatus muslim namun perangainya beda tipis dengan “lawan kata `muslim`” maka apakah dia menjadi muslim karena turunan belaka (seakan terpaksa) ?? Wallaahu a’lam. Adapun muslim sejati karena memang menghendaki dirinya sebagai muslim agar selamat dunia akhiratnya, maka muslim sejati pasti selalu berusaha mendekati ilmu Islam sehingga aqidah, tauhid, manhaj dan segala urusannya dilandasi Uluumuddien (ilmu Agama).

» Kita belajar agama bukan berarti harus jadi Ustadz atau Kyai atau Syaikh, tapi kita memang harus belajar landasan aqidah yang benar, tauhid yang benar, tata-cara sholat yang benar, dst. Sebab setiap individu akan membawa tanggung-jawabnya masing-masing.
Allah ta’ala berfirman:
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawaban.” (QS. Al-Israa`: 36)

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah (salah satu ulama generasi tabi’in yang hidup dinaungan cahaya nubuwah) beliau berkata:
لولا العلماء لصار الناس مثل البهائم
“Kalaulah bukan karena para ulama niscaya manusia tidak ada bedanya dengan binatang-binatang ternak.”[Mukhatshar Minhaajul Qaashidiin (hlm. 16)]

Tinggalkan Testimoni Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s