Perhatianlah Terhadap Zaman


zamanAku melihat zaman sekarang saja sudah sedemikian merebak beraneka ragam kezhaliman lalu bagaimana di zaman berikutnya ???

عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنْ الْحَجَّاجِ فَقَالَ اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Zubair bin ‘Adi ia mengatakan, kami pernah mendatangi Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, kemudian kami mengutarakan kepadanya keluh-kesah kami tentang (perangai buruk) Al-Hajjaj. Maka Anas radhiyallahu ‘anhu menuturkan; ‘Bersabarlah kalian, karena tidaklah datang suatu zaman kepada kalian, melainkan sesudahnya itu lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai Rabb kalian. Aku (Anas) mendengar hadits ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.[HR. Al-Bukhari (no. 7068) Daar Ibnu Katsir]

Hadits di atas menunjukkan bahwasanya zaman yang datang setelahnya ialah lebih buruk penduduk dan kondisinya dalam sisi agamanya sebab dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Sebaik-baik manusia ialah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya, dan kemudian zaman berikutnya.[HR. Al-Bukhari (no. 3651) Daar Ibnu Katsir]

Namun yang ingin dibahas bukanlah syarah hadits di atas, melainkan apatah yang sudah dipersiapkan untuk menghadapi zaman berikutnya?

***

Sedangkan (kalau hari ini belum punya anak) maka insya Allah tahun berikutnya atau berikutnya insya Allah diberi rezeki anak, dan anak adalah amanah yang harus dijaga dan diberi asupan yang baik dan begitu pula bagi yang sudah punya anak, maka dia harus mau menerima konsekuensi mendidik anaknya untuk menghadapi masa depannya.

Kaitan hadits yang saya bawakan adalah bahwasanya pada zaman kita yaitu sekarang saja sudah sedemikian buruknya keadaan zaman lantas bagaimana dengan zaman anak-anak kita kelak tentunya lebih jelek daripada zaman sekarang dengan begitu selaku orang tua harus memperhatikan kondisi ini terhadap anak-anaknya.

Bukan sekedar makanan yang masuk ke dalam perut namun perlu diperhatikan pula kehalalannya dan tidak lupa ke-thoyyibannya, thoyyib yang artinya bergizi, vitamin, protein dst (saya gak begitu ngerti bahasa kesehatan).

Contoh makan ghairu thoyyib adalah jengkol itu mubah tapi tidak thoyyib sebab (sepengetahuan saya) jengkol tidak mengandung gizi atau vitamin yang intinya tidak memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh dan ditambah bau yang menganggu maka jengkol termasuk jenis makanan yang tidak thoyyib.

Bukan mengutamakan pendidikan sekolah Umum, tapi sekolah agama sebab perkara duniawi itu otomatis seseorang akan mudah tertarik namun dalam perkara agama seseorang itu sulit tertarik, mengapa begitu?

Karena Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)

Dengan demikian perlu diperhatikan bagi para orang tua (termasuk saya) agar tidak melalaikan pendidikan Agama bagi anak-anaknya sebab ingatlah zaman anak-anak kita dewasa kelak itu lebih buruk daripada zaman kita sekarang, oleh karenanya mereka butuh ‘uluumusy syar’iyyah (ilmu agama) dan hishnul qalbi (benteng hati).

***

Namun bagaimana bisa mendidik dan mengajarkan anak kalau diri sendiri masih jauh dari ilmu, diri sendiri mengaji hanya sekedar TREND OF LIFE (yaitu orang mengaji yuuuk ikut-ikutan ngaji, oranglain libur yuuk ikutan libur) sehingga tidak ada faidah yang melekat pada dirinya melainkan sedikit sekali.

kalau ada yang berkata:

“Kan ada sekolah Agama, kan ada pesantren dst”

Maka katakanlah kepadanya: siapakah yang menjadi orangtuanya? Guru atau dirinya sendiri. Bacalah buku Ibunda Para Ulama karya Ustadz Sufyan Baswedan hafizhahullah tentang peranan ibunda para ulama yang menghasilkan anak-anak yang berbakti terhadap agama dan orangtuanya.

Janganlah mudah mengandalkan kepada ustadz, kepada kyai atau orang alim sebab terkadang waktu mereka pun padat waktunya untuk dimintai jawaban, sedangkan jawaban sangat dibutuhkan segera, walhasil pertanyaan kita tidak terjawab seketika, maka dari itu semestinyalah bagi kita mengisi jiwa kita dengan ilmu dien sehingga kita bisa mencari solusinya sendiri kecuali dalam kasus-kasus yang sulit dan perlu analisis, maka kita bertanya kepada ahlinya dan tidak memutuskan sendirian.

Akhir kata, mengaji ke majelis ta’lim itu benar-benar ta’lim dan mendapatkan faidah ilmu, bukan sekedar TREND OF LIFE, sehingga dapat memahami aqidah yang benar, tauhid yang benar, adab dan akhlak yang baik dan akhirnya kita bisa menjaga keluarga kita dari badai kezhaliman dan sambaran syubhat yang kian kencang menerpa fenomena kehidupan. Wallahul musta’aan wa a’lam[Status Facebook Maktabah Manhaj Salaf]

Tinggalkan Testimoni Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s