The True Story of Wahabi


wahabiASAL PENAMAAN WAHHABI

Kata Wahhabi pada asalnya adalah dari musuh dakwah Wahhabi itu sendiri dan orang-orang yang disematkan dengan label Wahhabi pada dasarnya mereka hanya mengakui sebagai Muwahhid (orang yang bertauhid) atau Salafi (orang yang bermanhaj salaf) namun karena saking kuatnya propaganda dan saking rajin dan semangatnya para musuh dakwah Tauhid dari berbagai sekte dan penjuru sehingga nama Wahhabi kian melejit dan semakin popular sebagai sebuah kelompok Islam tertentu.

PENDIRI DAKWAH WAHHABI

Nama Wahhabi itu pada asalnya disematkan dari nama seorang Al-Mujaddid Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yang lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 (tahun masehi: 1706-1793), dakwah Imam Muhammad ini menyerukan manusia kepada Tauhid dan memberantas Syirik serta menegakkan Jihad melawan orang-orang kafir dan alhamdulillah dakwah beliau berhasil menembus negeri-negeri Arab disekitarnya (yang kini KSA) dengan dibantu oleh Amir Muhammad bin Su’ud rahimahullah.

PENGARUH DAKWAH WAHHABI BAGI ORANG KAFIR

Pengaruh dakwah Imam Muhammad ini sangat meresahkan negera-negara Eropa (Inggris, Prancis, dkk) yang memiliki daerah jajahan di India dan sekitarnya. Mereka khawatir akan pengaruh dakwah Tauhid sang Imam ini akan membangkitkan jihad melawan mereka, walhasil mereka membuat sebuah paradigma negatif tentang Wahhabi sebagai sebuah sekte Islam radikal yang bengis dan kejam, maka para kafir itu pun membentuk opini publik di kalangan kaum muslimin yang awam sebagaimana ada sebuah sekte Khawarij yang dipelopori oleh Abdul Wahhab bin Rustum yang akhirnya dikenal sebagai Wahhabiyah atau Rustumiyyah (sekte ini kurang lebih di abad 2 H). Bahkan konon katanya, Mirza Ghulam Ahmad pendiri Agama Ahmadiyyah diciptakan (ide kenabiannya) oleh Inggris agar rakyat India tidak memberontak kepada Inggris dengan menegakkan Jihad mengusir orang-orang kafir dari negerinya, sebab dalam ajaran sesat Ahmadiyyah ini jihad dihapuskan.

HAKIKAT DAKWAH WAHHABI

Hakikat dakwah yang diserukan oleh sang Imam adalah sebagaimana dakwah para ulama pendahulunya yaitu mengajak manusia untuk bertauhid kepada Allah ta’ala dan memberantas kesyirikan, sang Imam ini pun banyak mempelajari keilmuan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahumallah dari kitab-kitab mereka. Gerakan dakwah beliau ini tentunya tidak serta merta memberantas kesyirikan tanpa Iqamatul Hujjah sebagaimana dituduhkan oleh musuh dakwah bahwa “Wahhabi main berantas kesyirikan dan main stempel kami musyrik.” Tidak, tidak demikian kami tidak menstempel kaum muslimin musyrik akan tetapi kami menjelaskan bahwa perbuatan demikian itu adalah syirik yang wajib dijauhi oleh segenap kaum muslimin berlandaskan dengan hujjah-hujjah syar’iyyah.

Metode (manhaj) yang ditempuh oleh sang Imam pun sebenarnya bukan sebuah karya pemahaman yang baru sebagaimana dituduhkan oleh musuh dakwah Tauhid, sang Imam hanya men-tajdid (memperbaharui) dari yang sudah ada sebelumnya dan beliau sangat jauh sekali dari menciptakan bid’ah dalam pemahaman akan tetapi musuh dakwah beliaulah yang rajin sekali menciptakan pemahaman baru yang tidak dikenal dikalangan generasi terbaik.

Metode yang benar adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas shahih, maka ketika metode itu bercampur dengan filasafat (kaum aqliyyun) terlahirlah faham-faham baru dalam memahami AL-Qur’an dan As-Sunnah, yang sesuai dengan hawa nafsunya.

CIRI-CIRI WAHHABI
Diantara ciri-ciri Wahhabi menurut Sirajuddin Abbas penulis buku Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah atau lebih tepatnya Aqidah Asy’ariyyah wal Jama’ah, diantara ciri Wahhabi adalah melarang merokok, dan ini adalah sebuah statemen yang sangat lucu dan konyol sekali, karena dokter saja melarang merokok berarti dokter yang melarang merokok itu Wahhabi donk.

Disini perlu diluruskan tentang ciri-ciri Wahhabi adalah mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para Salafush Shalih, tidak berorganisasi seperti ormas-ormas Islam yang ada, tidak memberontak kepada pemerintah berbeda dengan khawarij gaya baru (KGB) mereka secara fisik dan pemahaman hampiiirrr mendekati Wahhabi tapi kalau ditilik lebih dalam lagi sangat jauh berbeda sekali jadi bedakan antara Wahhabi dan KGB.

Wahhabi tidak ta’ashub terhadap madzahib yang ada karena para a’immah sendiri mengatakan: “Idza Shahal Hadits fa huwa madzhabi” (kalau hadits itu shahih maka itulah madzhabku)

Wahhabi membenci kesyirikan dan kebencian ini berdasarkan ilmu jadi dakwah Wahhabi tidak serta-merta berbuat onar sana-sini dalam memberantas kesyirikan, berbeda dengan ormas tertentu yang main sikat dan berantas kemaksiatan seperti klub malam dll, padahal kalau mau ditimbang beratnya dosa, maka dosa Syiriklah yang paling berat sebab syirik Akbar menghapuskan seluruh amal dan menjadikan pelakunya kekal di Neraka (jika tidak taubat sebelum matinya). AKan tetapi dakwah Wahhabi adalah mengajak manusia kepada Tauhid dan inilah yang dimaksud dengan Iqamatul Hujjah (menegakkan dalil atau memberitahukan ilmu dahulu kepada manusia awam yang terjatuh dalam kubangan kesyirikan).

Wahhabi tidak menyukai berbagai macam Bid’ah-bid’ah yang ada karena bid’ah itu merusak Sunnah Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam atau bisa dikatakan menggantikan As-Sunnah menjadi Al-Bid’ah -waliya’udzubillah- Adapun pembahasan tentang bid’ah secara mendetail bukan disini tempatnya dan insya Allah di lain waktu senggang kami.

Wahhabi tidak menyukai khurafat, takhayul, thathayyur (menganggap adanya kesialan) dan mitos-mitos atau dongeng-dongeng atau benda-benda yang dikeramatkan.

Wahhabi mengajak manusia kepada Ilmu yang syar’i bukan Ilmu Aqli (yang berdasarkan akal semata) atau Ilmu Dongeng (yang mempercayai takhayul-takhayul yang dikisahkan oleh para leluhur). Demikianlah diantaranya ciri-ciri Wahhabi.

***

Demikinalah sedikit tentang ulasan The Wahhabi menurut pengamatan saya pribadi dari apa yang telah saya baca dan saya pelajari tentang sejarah Wahhabi jadi apabila ada kesalahan dan kekeliruan dari tulisan saya, mohon dikoreksi dengan ilmu dan akhlak, dan apabila tulisan saya ini bermanfaat -alhamdulillah- maka dipersilahkan men-share bagi yang mau (no insist to share) tanpa perlu meminta izin sekalipun namun apabila sebaliknya (tidak bermanfaat) maka nasihatilah kami dengan ilmu dan akhlak dan jangan di-share (apabila tidak bermanfaat).Wallahu a’lam bish-shawwab[Status Facebook Maktabah Manhaj Salaf]

Tinggalkan Testimoni Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s