Resensi Buku: Bidayatul Mujtahid Wan Nihayatul Muqtashid


This slideshow requires JavaScript.

Judul Asli: ِBidayatul Mujtahid Wan Nihayatul Muqtashid
Judul Buku: Bidayatul Mujtahid Wan Nihayatul MuqtashidKitab Tauhid
Penulis: Ibnu Rusyd
Penerjemah: Abdul Rasyad Shiddiq
Penerbit: Akbar Media
Kota Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: Oktober 2013
Cetakan: Pertama
Deskripsi Fisik: Dua Jilid; Hard Cover
ISBN:  978-602-9215-23-6 (Jilid 1)
ISBN: 978-602-9215-24-3 (Jilid 2)

Buku Bidayatul Mujtahid Wan Nihayatul Muqtashid merupakan salah satu buku terbaik yang mengupas tentang fikih muqaranah (atau fikih perbandingan madzhab) buku ini pun senantiasa dijadikan bahan referensi pelajaran di pesantren-pesantren.


BAB 2 : SHALAT

[C. RUKUN-RUKUN SHALAT]

 Pembahasan ini mencakup ucapan-ucapan atau bacaan serta perbuatan-perbuatan dalam shalat yang lazim disebut rukun. Bacaan dan tata cara dari segi kuantitasnya dalam shalat fardhu itu bersifat relatif, baik dari segi apakah shalat fardhu itu dilakukan sendirian atau berjama’ah, atau dari segi waktunya shalat. Contohnya seperti beda antara shalat zhuhur di hari Jum’at dan di hari-hari yang lainnya, dalam keadaan sedang tidak berpergian atau sedang berpergian, dalam suanana aman atau sedang dalam ketakutan (perang) dan dalam keadaan sehat atau sakit.

Supaya pembahasan ini tersusun rapi dan mengalir lancar maka pertama-tama akan dibicarakan terlebih dahulu beberapa masalah yang terkait dengan seluruh jenis shalat, lalu pembicaraan secara khusus tentang jenis-jenis shalat satu persatu. Inilah yang paling mudah, meskipun kemungkinan terjadi pengulangan. Tetapi mengingat inilah cara yang ditempuh para ulama ahli fiqih, maka kami mengikuti mereka. Penulis menjadikan bagian ini terdiri dari enam bahasan:

  • Pertama, tentang orang yang shalat sendirian yang tidak sedang berpergian, yang dalam suasana aman dan yang sehat.
  • Kedua, tentang shalat berjama’ah. Artinya, tentang hukum-hukum Imam dan makmum dalam shalat.
  • Ketiga, tentang shalat Jum’at
  • Keempat, tentang shalat dalam berpergian
  • Kelima, tentang shalat dalam suasana takut
  • Keenam, tentang shalat orang yang sakit.

[1. Orang yang Shalat Sendirian, yang tidak sedang berpergian, yang dalam suasana aman dan yang sehat]

Topik ini terdiri dari dua pembahasan. Pertama, tentang bacaan-bacaan shalat. Dan Kedua, tentang perbuatan-perbuatan dalam shalat.

a. Bacaan-bacaan dalam Shalat

Pembahasan ini meliputi sembilan masalah pokok:

1) Takbir

Ada tiga pendapat di kalangan para ulama soal takbir. Sebagian mereka mengatakan, semua takbir dalam shalat hikumnya wajib. Sebagian lagi mengatakan, tidak semua takbir dalam shalat hukumnya wajib. Dan sebagian lagi mengatakan hanya takbiratul ihram saja yang hukumnya wajib. Yang terakhir ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Penyebab perbedaan pendapat antara para ulama yang mewajibkan semua takbir dan para ulama yang hanya mewajibkan takbiratul ihram saja ialah kesan adanya pertentangan antara yang dikutip dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang dikutip dari tindakan beliau. Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang cukup populer, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang sahabat yang memohon beliau mengajarinya shalat,

“Jika kamu akan shalat, berwudhulah dengan sempurna, lalu menghadaplah ke kiblat, dan bertakbirlah, kemudian bacalah.”[HR. Bukhari dan Muslim serta diriwayatkan juga oleh At-Tirmizi, Abu Dawud, An-Nasaa-i]

Pengertian hadits ini ialah, bahwa hanya takbir pertama saja yang diwajibkan. Kalau takbir-takbir lainnya diwajibkan, tentu beliau akan menyebutkan kewajiban-kewajiban shalat yang lainnya.

Perihal tindakan-tindakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya ialah hadits Abu Hurairah,

“Sesungguhnya ia shalat. Setiap kali gerakan turun dan naik, ia membaca takbir. Kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang shalatnya paling mirip dengan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara kalian.”[HR. Bukhari dan Muslim]

Diantaranya lagi ialah hadits Mutharraf bin Abdullah bin as-Sakhir, ia berkata, “Aku dan Imran bin Al-Hashin shalat di belakang Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ketika hendak sujud ia bertakbir, dan ketika mengangkat kepalanya dari ruku’ ia juga bertakbir. Selesai shalat dan kamipun bubaran, Imran bin Al-Hashin menggandeng tangan Ali radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Hal itu mengingatkanku akan shalatnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[HR. Bukhari & Muslim]

Para ulama yang mewajibkan takbir dalam shalat, mereka berpedoman pada pengalaman riil yang dikutip dalam hadits tadi. Kata mereka, pada prinsipnya semua perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan dalam rangka memperjelas sesuatu yang wajib harus pula diartikan sebagai wajib, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat dan ikutilah aku dalam melaksanakan ibadah-ibadah haji kalian.”[HR. Bukhari]

Kata mereka lebih lanjut, dalam hadits tadi ada petunjuk bahwa yagn dilakukan para sahabat merupakan penyempurnaan bacaan takbir. Oleh karena itu, dalam hal ini Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

“Diantara kalian sesungguhnya aku adalah orang yang shalatnya mirip dengan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dan Imran bin Al-Hashin juga mengatakan, “Hal itu mengingatkan aku akan shalatnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Pendapat para ulama yang mengatakan semua takbir dalam shalat hukumnya wajib sunat, adalah pendapat yang lemah. Boleh jadi, mereka ini hanya mengqiyaskan dengan dzikir-dzikir lain dalam shalat yang tidak wajib, karena mereka mengqiyaskan takbiratul ihram dengan takbir-takbir lainnya.

Kata Abu Umar Ibnu Abdul Barr, di antara yang mengatakan pendapat mayoritas ulama ialah hadits yang diriwayatkan oleh Syu’bah bin Al-Hajjaj, dari Al-Hasan bin Imran, dari Abdullah bin Abdurrahman bin Abzi, dari ayahnya, ia berkata,

“Aku shalat berasama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak menyempurnakan takbir. Aku juga shalat bersama Umar bin Abdul Aziz dan ia pun tidak menyempurnakan takbir.”[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud]

Diantara yang memperkuatnya lagi ialah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal bersumber dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya ia tidak biasa membaca takbir jika sedang shalat sendirian.

Jadi, menurut mereka fungsi takbir hanyalah sebagai tanda atau isyarat Imam kepada para makmum tentang posisi berdiri dan duduknya. Mungkin sama seperti inilah pendapat sementara ulama yang menyatakan bahwa semua takbir itu hukumnya sunat.

2) Lafal Takbir

Kata Imam Malik, kalimat takbir yang standar diucapkan ialah Allahu AKbar, kata Imam Syafi’i kalimat takbir yang standar ialah Allahu Akbar atau Wallahu Akbar. Dan kata Imam Abu Hanifah, boleh bertakbir dengan menggunakan setiap kalimat yang senada dengan kalimat Allahu Akbar. Contohnya seperti kalimat Allahu Al-A’zham, atau Allahu Ajallu, dan lain sebagainya.

Penyebab timbulnya perbedaan para ulama dalam masalah ini ialah mneyangkut soal apakah yang digunakan untuk pembukaan shalat itu ucapan suatu lafal tertentu atau lafal-lafal yang artinya senada? Ulama-ulama dari kalangan madzhab Maliki dan madzhab Syafi’i berpedoman pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم

“Kunci shalat ialah bersuci, pembukaannya ialah takbir, dan penutupnya ialah salam.”[Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah bersumber dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.]

Kata mereka huruf al-(ال) di sini menunjukkan makna hashr atau pembatasan. Artinya, bahwa yang ditetapkan disini hanya yang terucap saja, bukan yang lain. Namun Imam Abu Hanifah tidak setuju dengan pemahaman mereka tersebut. Menurutnya pengertian itu adalah termasuk dalil khithaab (yang diajak bicara,-pen) yakni menetapkan kebalikan ketetapan sesuatu yang terucap. Dan menurut Imam Abu Hanifah, dalil khithaab itu bisa diamalkan.[dinukil dari buku ini (jilid: 1, hlm. 163-166)]

Sekian ringkasan dari buku Bidayatul Mujtahid wan Nihayatul Muqtashid, kami sengaja tidak meneruskannya karena khawatir resensi ini terlalu panjang.


[PERSONAL REVIEW]

Dari buku ini kita diajarkan agar tidak bertaklid kepada suatu madzhab tertentu sebeb perkataan ulama tidak mutlak harus diterima kecuali didukung oleh dalil-dalil yang shahih dan sharih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebab qiyas diurutkan pada bagian terakhir dalam istinbath (kesimpulan) suatu hukum yang terkait.

Buku ini pun menjadi rujukan premier di pesantren-pesantren di Indonesia sebagai materi pelajaran Fiqih Muqaranah (fiqih perbandingan madzhab-madzhab) disamping buku fiqih muqaranah yang lainnya.

Keistimewaan pada buku ini adalah penulis menyebutkan sebab-musabab perselisihan mereka lalu kemudian menunjukkan dalil masing-masing madzhab dalam ber-istidlal lalu penulis pun terkadang men-tarjih (menguatkan) salah satu pendapat berdasarkan istinbath-nya terhadap nushush (dalil-dalil) tersebut dan terkadang tidak, metode penyusunan buku ini pun sangat rapih sekali sehingga memudahkan para pembacanya.

Hanya saja dalam terbitan buku ini page-layout-nya dibuat dua kolom, dan berjumlah dua jilid dengan ukuran fisik buku yang tebal dan besar serta bahan kertas non-hvs, namun kendati demikian bukan disitu letak urgensitasnya karena letak keutamannya ialah pada isi materi dari buku itu sendiri dan proses terjemahan dan penyantuman keterangan di bagian catatan kaki.

Resensi ini selesai dibuat di Kota Tangerang Selatan, 15 Shafar 1436 H / 8 Desember 2014 M oleh Abu Hamzah Yudha Abdul Ghani. pukul: 14:45 WIB

Catatan Tambahan:
Jika anda hendak copy-paste artikel ini silahkan dibaca terlebih dahulu artikel kami yang berjudul Etika Copy-Paste.


Teruskan Berbelanja

Tinggalkan Testimoni Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s