Resensi Buku: Minhajul Qashidin


Judul Asli: ِMukhtashar Minhajil Qashidin
Judul Buku: Minhajul Qashidin  Menggapai Kebahagian Hidup Dunia & Akhirat
Penulis: Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
Penerjemah: Irfanuddin Rafi’uddin, Lc.
Penerbit: Pustaka As-Sunnah
Kota Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: November 2011
Cetakan: Kedua
Deskripsi Fisik:   747 hal; Hard Cover
ISBN:  978-979-3913-39-1

DAFTAR ISI

PENGANTAR PENERBIT
PENGANTAR PENULIS
PENGANTAR PENSYARAH DAN PENTAHQIQ
PEMBAHASAN PERTAMA: MASALAH IBADAH   

BAB SATU
Kitab: Ilmu, Keutamaannya, dan Hal-hal yang berhubungan dengannya

BAB DUA
Kitab: Bersuci dan Shalat, Rahasia-rahasianya serta Hal-hal yang berhubungan dengannya

BAB TIGA
Kitab: Rahasia-rahasia Zakat dan hal-hal yang berhubungan dengannya

BAB EMPAT
Kitab: Puasa; Rahasia-rahasia, Urgensi, Keutamaan, dan hal-hal yang berkaitan dengannya

BAB LIMA
Kitab: Haji, Rahasia-rahasia, keutamaan-keutamaan, adab-adab dan hal-hal yang berhubungan dengannya

BAB ENAM
Kitab: Adab-adab Al-Qur’an Al-Karim dan keutamaan-keutamaannya

BAB TUJUH
Kitab: Dzikir dan Do’a serta hal-hal yang berhubungan dengannya

PEMBAHASAN KEDUA: MASALAH ADAT KEBIASAAN

BAB SATU
Kitab: Adab-Adab Makan, Berkumpul, Bertamu, dan Hal-hal yang berkaitan dengannya

BAB DUA
Kitab: Pernikahan, Adab-adabnya, dan hal-hal yang berhubungan dengannya

BAB TIGA
Kitab: Adab-adab mata pencaharian dan penghidupan, keutamaannya, mu’amalah secara baik serta hal-hal yang berhubungan dengannya

BAB EMPAT
Kitab: Adab bersahabat, berukhuwah, dan bergaul dengan baikBAB LIMA
Kitab: Adab Bepergian

BAB ENAM
Kitab: Amar Ma’ruf Nahi Munkar

BAB TUJUH
Kitab: Adab peri kehidupan dan akhlak kenabian

PEMBAHASAN KETIGA: MASALAH YANG MEMBINASAKAN

BAB SATU
Kitab: Penjelasan Tentang Keajaiban Hati

BAB DUA
Kitab: Latihan bagi jiwa, Bimbingan bagi Akhlak dan Terapi bagi penyakit-penyakit hati

BAB TIGA
Kitab: Mengendalikan Dua Syahwat, Syahwat perut dan syahwat kemaluan

BAB EMPAT
Kitab: Bahaya Lisan

BAB LIMA
Kitab: Celaan terhadap amarah, dengki dan iri hati

BAB ENAM
Kitab: Celaan terhadap dunia

BAB TUJUH
Kitab: Celaan terhadap kerakusan dan tamak, serta pujian terhadap Qana’ah (menerima terhadap apa yang telah diberikan Allah)

BAB DELAPAN
Kitab: Celakanya jabatan dan Riya’ serta cara terapi keduanya

BAB SEMBILAN
Kitab: Celaan terhadap sifat takabur (kesombongan), ‘Ujub (mengagumi diri sendiri)

BAB SEPULUH
Kitab: Macam-macam tipuan dan tingkatan-tingkatannya

PEMBAHASAN KEEMPAT: HAL-HAL YANG MENYELAMATKAN

BAB SATU
Kitab: Taubat, syarat dan rukun taubat serta hal-hal yang berhubungan dengannya

BAB DUA
Kitab: Sabar dan Syukur

BAB TIGA
Kitab: Raja’ (rasa harap) dan Khauf (rasa takut)

BAB EMPAT
Kitab: Zuhud dan Kefakiran

BAB LIMA
Kitab: Tauhid dan Tawakkal

BAB ENAM
Kitab: Cinta, Kerinduan, Kebersamaan dan Ridha

BAB TUJUH
Kitab: Niat, Ikhlas dan Jujur

BAB DELAPAN
Kitab: Muhasabah (Introspeksi diri) dan Muraqabah (pendekatan diri)

BAB SEMBILAN
Kitab: Tafakur

BAB SEPULUH
Kitab: Mengingat Pedihnya Kematian dan sikap-sikap yang diperbolehkan untuk dilakukan

BAB SEBELAS
Kitab: Luasnya Rahmat Allah ta’ala

[PEMBAHASAN KETIGA: MASALAH-MASALAH YANG MEMBINASAKAN]

[BAB SATU]

[Kitab: Penjelasan Tentang Keajaiban Hati]

***

Ketahuilah, bahwa sesuatu yang paling mulia pada diri manusia adalah hatinya. Hatilah yang bisa mengenal Allah. Ia sebagai pendorong terjadinya tindakan dan usaha, serta yang mengungkap apa yang ada di sisi-Nya. Anggota tubuh hanya mengikuti dan melayaninya. Laksana pelayan terhadap tuannya.

Barangsiapa yang mengetahui (mengenal) hatinya, maka ia mengetahui Rabbnya. Pada umumnya manusia tidak mengetahui hati dan jiwanya sendiri. Dan Allah membimbing manusia antara diri seseorang dengan hatinya, dengan menghalanginya untuk bisa mengetahui dan mengawasinya. Maka, mengetahui hati dan sifat-sifatnya merupakan dasar agama dan pondasi orang-orang yang meniti jalan kepada Allah.

Pasal: Pintu Masuk Iblis ke dalam Hati Manusia

Ketahuilah bahwa fitrah hati ialah menerima hidayah dan menerima nafsu syahwat. Kedua kecenderungan ini bergumul di dalam hati sercara kontinu (terus-menerus), laksana dua tentara yang saling bertikai; tentara malaikat dan tentara syaitan, hingga akhirnya hati menerima salah satu diantara keduanya, yang satu bersemayam dan yang satunya lagi menyingkir karena kalah. Inilah yang digambarkan Allah dalam firman-Nya:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

“Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi.” (QS. An-Naas: 4)

Apabila seseorang diingatkan tentang Allah, dia malah bersembunyi dan jika berada pada kelalaian justru dia merasa senang. Para tentara syaitan tidak akan mengusir kelalaian itu dari hati, kecuali jika hati ingat kepada Allah. Syaitan pun tidak akan bersemayam di dalam hati, jika hati juga mengingat Allah.

Ketahuilah, bahwa hati itu ibarat sebuah benteng, dan syaitan adalah musuh yang ingin memasuki benteng untuk menguasai dan merebutnya. Benteng tidak mungkin terlindungi, kecuali terjaga pintu-pintunya. Hanya yang tahu pintu-pintu saja yang bisa menjaganya. Dan seseorang tidak akan bisa menyingkirkan syaitan kecuali jika mengetahi pintu-pintu masuknya. Pintu-pintu masuk ini adalah sifat-sifat hamba dan jumlahnya banyak sekali. Kami hanya akan menyebutkan beberapa pintu besar yang menjadi jalan utama yang tidak pernah sempit karena banyaknya tentara syaitan.

Di antara pintu-pintu yang besar ini adalah kedengkian dan sifat tamak. Jika seseorang tamak terhadap sesuatu maka ketamakan akan membuatnya buta dan tuli. Namun, tetap saja cahaya bashirah (mata hati/hati nurani) akan memberitahukan pintu-pintu masuk mana saja yang dilalui syaitan. Apabila cahaya ini sudah tertutupi kedengkian dan ketamakan maka dia tidak dapat melihatnya. Demikian pula jika dia dengki maka syaitan mendapatkan peluang. Apapun yang hendak dicapai orang yang tamak yang semua berangkat dari syahwatnya tentu akan dilakukannya, sekalipun itu merupakan sesuatu yang mungkar dan keji.

Pintu lainnya adalah amarah, syahwat dan keras hati. Amarah adalah bius bagi akal. Apabila tentara akal melemah maka tentara syaitan maju melakukan penyerangan dan mempermainkan manusia. Diriwayatkan bahwa iblis berkata:

 “Jika seorang hamba keras hatinya, maka kami bisa membaliknya sebagai anak kecil yang membalik bola mainannya.”

Pintu lainnya adalah suka menghias isi rumah, pakaian dan perkakas. Orang seperti ini selalu ingin mempercantik rumahnya, merubah atapnya, temboknya, memperluas bangunannya, membaguskan pakaiannya dan perkakas rumah tangganya, sehingga ia pun merasa rugi dimana sepanjang hidupnya hanya memikirkan hal tersebut.

Pintu lainnya adalah kenyang dengan makanan. Karena jika kenyang, maka gejolak syahwat seseorang akan menguat sehingga mengabaikan ketaatan.

Pintu yang lain adalah tamak (rakus) terhadap orang lain. Siapa saja yang tamak terhadap orang lain maka dia senang memuji orang tersebut dengan pujian yang tidak selayaknya, mencari muka, tidak menyuruhnya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang mungkar.

Pintu yang lainnya adalah terburu-buru dan tidak memiliki keteguhan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Terburu-buru itu dari syaitan dan berhati-hati itu dari Allah.”[HR. At-Tirmizi (2012)]

Pintu yang lainnya adalah Cinta terhadap harta. Selama cinta kepada harta bersemayam dalam hati, maka ia akan merusaknya, sehingga mendorong kepada pencarian harta dengan cara yang tidak benar, membawanya kepada sifat kikir, takut miskin dan mencegahnya mengeluarkan hak yang diwajibkan.

Pintu yang lainnya adalah mengajak orang-orang awam kepada fanatisme madzhab, tanpa melaksanakan amalan sesuai esensinya (kepentingannya).

Pintu yang lainnya adalah mengajak orang-orang awam untuk berpikir mengenai Dzat Allah, sifat-sifat-Nya, dan masalah-masalah yang sebenarnya di luar jangkauan akal mereka, sehingga membuat mereka ragu terhadap dasar agama.

Pintu yang lain adalah berburuk sangka terhadap Kaum Muslimin. Melalui pintu ini syaitan ingin memutuskan tentang diri seorang muslim berdasarkan buruk sangka, melecehkannya, mengatakan yang macam-macam tentang dirinya dan melihat dirinya lebih baik darinya. Buruk sangka bisa dibuat sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan seleraorang yang berburuk sangka. Orang mukmin adalah yang memaafkan orang mukmin lainnya, sedangkan orang munafik adalah yang mencari-cari keburukannya. Maka setiap orang harus berhati-hati terhadap titik-titik sensitive yang sering memancing tuduhan agar orang lain tidak berburuk sangka kepadanya.

Inilah pintu-pintu masuk syaitan. Cara terapinya adalah menutup pintu-pintunya dengan cara membersihkan hati dari sifat-sifat yang tercela, yang akan diuraikan secara detail, insya Allah.

Jika benih sifat-sifat ini tetap bersemayam di dalam hati maka syaitan akan lebih leluasa memasukkan bisikkan bahkan keluar-masuk sehingga mencegahnya dari dzikrullah dan membangun hati dnegan hiasan taqwa.[Dinukil dari buku ini (hlm. 275-278)]


[PERSONAL REVIEW]

Sebagaimana judulnya Minhajul Qashidin yang artinya Metode orang-orang yang menuju ke jalan Allah maka materi dalam buku ini erat kaitannya dengan tazkiyatun nufus.

Buku ini sangat sederhana karena berupa ringkasan namun cukup padat dan pembaca sekalian dapat melihat daftar isi yang kami lampirkan di atas.

Buku ini sangat layak sekali dimiliki oleh setiap muslimin dan muslimah dikarenakan faktor kebutuhannya terhadap pengawasan hati, dan disamping itu pun buku ini termasuk jenis buku yang ringan karena tidak berjilid-jilid sehingga bagi para pembaca pemula tidak akan digelayuti rasa bosan ketika membacanya.

Lebih lanjut lagi pada bagian catatan kaki di buku ini ditambahkan beberapa faidah pendukung atas isi materi sehingga memberikan bonus pengetahuan bagi para pembacanya.

Kami sangat merekomendasikan buku ini untuk dimiliki oleh kaum muslimin sekalian guna menambah khazanah ilmu Islam terutama dalam masalah tazkiyatun nufus yang seringkali terabaikan oleh kebanyakan padahal kebaikan ibadah itu tergantung kepada kebaikan hatinya, jika hatinya rusak maka rusak pula apa yang dikerjakannya, sebagaimana shalat yang disertai dengan Riya’ maka gugurlah pahala sholat tersebut dan dia mendaptkan dosa besar dari perbuatan Riya’-nya. Allahul Musta’aan.

Resensi ini selesai dibuat di Kota Tangerang Selatan, 15 Shafar 1436 H / 8 Desember 2014 M oleh Abu Hamzah Yudha Abdul Ghani. pukul: 20:10 WIB

Catatan Tambahan:
Jika anda hendak copy-paste artikel ini silahkan dibaca terlebih dahulu artikel kami yang berjudul Etika Copy-Paste.


Teruskan Berbelanja

Tinggalkan Testimoni Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s