Setiap Perbuatan Bid’ah Tertolak


bid'ah

 

Hadits Al-Arba’iin An-Nawawiyyah No. 5

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak. [Riwayat Bukhari dan Muslim], dan dalam riwayat Muslim disebutkan: Barangsiapa yang melakukan suatu amal (ibadah) yang tidak sesuai dengan urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak.

TAKHRIJ HADITS:

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dalam shahih-nya (3/241: 2697) dan Imam Muslim dalam shahih-nya (5/132: 1718, 17, dan 18) dan dikeluarkan pula oleh Imam Ahmad (6/73,146,240, 256, dan 270, Imam Abu Dawud (4606), Imam Ibnu Majah (14), Imam Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah (52-53), Abu Ya’la (4594), Ibnu Hibban (26-27), Ad-Daruquthni (4/224-225 dan 227) Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/173), Al-Baihaqi (1/119), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (103) dari jalan Al-Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah.[1]

KEUTAMAAN HADIST:

1. Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullah berkata:

فيه دليل على أن العبادت من الغسل والوضوء والضوم والصلاة اذا فعلت خلاف الشرع تكون مردودة على فاعلها
“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa semua bentuk ibadah baik mandi, wudhu, puasa, dan shalat, apabila dikerjakan tidak sesuai dengan ketetapan syariat (Islam) maka amalan ibadah itu tertolak dari pelakunya” [2]

2. Imam Ibnu Daqiiqil ‘Ied rahimahullah berkata:

هذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الدين وهو من جوامع الكلِم التي أوتيها المصطفى صلى الله عليه وسلم فإنه صريح في ردّ كل بدعة وكل مخترع
“Hadits ini merupakan kaidah yang agung di antara kaidah-kaidah Agama, dan merupakan Jawaami’ul Kalim (kalimat yang ringkas dan mudah tapi padat makna) yang diberikan kepada al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hadits ini pun menunjukkan dengan jelas dalam tertolaknya setiap bid’ah dan perkara-perkara baru (dalam agama).”[3]

3. Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata:

هذا الحديث أصلٌ عظيم من أصول الإسلام وهو كالميزان للأعمال في ظاهرها كما أنّ حديث؛ الأعمال بالنيَّات – ميزان في باطنِها فكما أن كل عمل لا يراد به وجه الله تعالى فليس لعامله فيه ثواب، فكذلك كلُّ عمل لا يكون عليه أمر الله ورسوله فهو مردودٌ على عامله، وكل من أحدث في الدين ما لم يأذن به الله ورسوله فليس من الدين في شيء
“Hadits ini adalah landasan agung dari prinsip-prinsip Islam dan merupakan mizan (barometer) amal perbuatan yang nampak, sebagaimana hadits: “Sesungguhnya setiap amal perbuatan dengan niat” adalah mizan (barometer) dalam amal yang tidak nampak (batin), sebagaimana setiap amal yang tidak mengharapkan wajah Allah ta’ala maka pelakunya tidak mendapatkan pahala, begitu pula setiap amal yang tidak terdapat perintah padanya dari Allah dan Rasul-Nya maka amal tersebut tertolak dari pelakunya. Dan setiap siapa saja yang melakukan mengarang perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya maka bukanlah termasuk perkara agama sedikitpun.[4]

4. Al-Muhaddits Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata:

هذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الإسلام وهو من جوامع الكلِمه صلى الله عليه وسلم فإنه صريح في ردّ وإبطال كل البدع والمحدثات
“Hadits ini adalah kaidah yang agung dari kaidah-kaidah Islam dan hadits ini merupakan jawaami’ul kalim yang dengan jelas menolak dan membatalkan setiap bid’ah dan al-muhdatsat (mengada-adakan perkara baru dalam agama)”[5]

5. Faqihuz Zaman Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

هذا الحديث أصلٌ من أصول الإسلام دل عليه قوله تعالى؛ وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ
“Hadits ini adalah landasan dari prinsip-prinsip Islam hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.'(QS. Al-An’am: 153)”[6][Status Facebook Maktabah Manhaj Salaf]

 


1. Takhrij ini dinukil dari kitab Jaami’ul ‘Uluum Wal Hikam fii Syarhi Khamsiina Hadiitsan min Jawaami’il Kalim, (hlm. 155) Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali, Tahqiq: Dr. Mahir Yasin Al-Fahl, cet. Daar Ibnu Katsir.

2. Syarhu Matan Al-Arba’iin An-Nawawiyyah (hlm. 31), Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi
3. Syarhu Al-Arba’iin Hadiitsan An-Nawawiyyah (hlm. 25) Imam Ibnu Daqiiqil ‘Ied, cet. Al-Faishaliyyah
4. Jaami’ul ‘Uluum Wal Hikam fii Syarhi Khamsiina Hadiitsan min Jawaami’il Kalim, (hlm. 155) Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali, Tahqiq: Dr. Mahir Yasin Al-Fahl, cet. Daar Ibnu Katsir.
5. ‘Ilmu Ushuulil Bida’ Diraasah Takmiliyyah Muhimmah fii ‘Ilmi Ushuulil Fiqh (hlm. 27) Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi, cet. Daar Ar-Rayyah.
6. Syarhu Al-Arba’iin An-Nawawiyyah (hlm. 115) Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet. Daar Ats-Tsurayaa.

Tinggalkan Testimoni Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s